Ahmad memeluk Rina dari belakang, melingkarkan lengan kuatnya di pinggangnya, sementara Maya melanjutkan memijat bahu Rina dengan gerakan terampil. Setiap sentuhan mengalirkan rasa hangat, menyalakan percikan rasa yang memancar dari dalam.

Ketika keintiman semakin mengalir, Pak Rahman mengalihkan perhatiannya ke pinggul Amoi. Ia menyentuh dengan lembut, meluncurkan jari-jarinya ke sisi tubuh istri, menggelitik kulitnya yang halus. Amoi menanggapi dengan menggerakkan pinggulnya perlahan, mengikuti irama napas suaminya.

Ketika Ahmad menaruh cangkir di meja, ia menoleh ke arah Rina dengan senyum yang mengundang. “Selamat datang, Rina. Aku dengar kamu suka cerita‑cerita baru,” ucapnya dengan suara serak yang menenangkan. Rina merasa terpesona oleh tatapan mata Ahmad yang dalam, seakan mengundang rahasia yang belum terungkap.